MAQAM IBRAHIM
by Lutfi MB- admin easyumroh | 25-06-2026 04:04
Maqam Ibrahim
Hampir
semua Umat Islam, terutama mereka yang pernah mengunjungi Ka’bah, akrab dengan
sebutan maqam Ibrahim. Meski demikian, tidak sedikit umat Islam yang masih
beranggapan salah dengan mengira bahwa Maqam Ibrahim merupakan makam atau
kuburan Nabi Ibrahim Alaihissalam.
Padahal, kata "maqam" ini
dalam bahasa Arab yang berarti tempat berdiri atau tempat berpijak, bukan
kuburan.
Maqam Ibrahim adalah batu bersejarah
tempat Nabi Ibrahim Alaihissalam berpijak saat membangun Ka'bah. Terletak
sekitar 9 meter di timur Ka'bah, batu ini menampilkan jejak kaki beliau dan
diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai lokasi yang diberkahi untuk mendirikan salat.
Batu tersebut berukuran relatif kecil dengan tinggi
sekitar 20 sentimeter. Pada permukaannya terdapat dua cekungan yang diyakini
sebagai bekas pijakan kaki Nabi Ibrahim AS, masing-masing sedalam sekitar 10
sentimeter dan 9 sentimeter.
Menurut
riwayat dari Said bin Zubair, batu ini digunakan oleh Nabi Ibrahim saat beliau
berdiri dan membangun Ka'bah bersama Nabi Ismail. Sejarawan Al-Kurdi mencatat
bahwa meskipun tingginya hanya sekitar 20 cm, batu ini dapat naik dan turun
dengan mukjizat Allah Swt. sesuai kebutuhan Nabi Ibrahim. Ketika satu sisi
bangunan selesai, batu ini dipindahkan ke sisi lainnya hingga seluruh tembok
Ka'bah berdiri kokoh.
Batu
ini digunakan sebagai pijakan bergerak oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail saat
meninggikan dinding Ka'bah. Atas kekuasaan Allah, batu tersebut menjadi lembut
sehingga meninggalkan bekas telapak kaki Ibrahim yang masih terlihat jelas
hingga kini.
Setelah pembangunan selesai, Allah
Azza wa Jalla memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyeru umat manusia agar
menunaikan ibadah haji, sebuah panggilan yang konon disampaikan dari atas Maqam
Ibrahim ini.
Dalam
Al Quran di surat Ali Imran ayat 96-97 disebutkan hal itu, yang artinya:
“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama
yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang
diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di sana terdapat tanda-tanda
yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah)
amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah
melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu2
mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka
ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”
Sebagai
bentu syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Nabi Ibrahim Alaihissalam
disebut melaksanakan shalat dua rakaat ditempat itu, setelah menyelesaikan
meninggikan Ka'bah. Karena itu, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk
menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Perintah tersebut termaktub
dalam firman-Nya:
"Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai
tempat shalat" (QS Al-Baqarah: 125).
Berdasarkan ayat ini, jamaah yang telah menyelesaikan
tujuh putaran tawaf dianjurkan melaksanakan shalat sunnah dua rakaat di
belakang Maqam Ibrahim apabila kondisi memungkinkan.
Maqam Ibrahim
menjadi salah satu tempat yang dihormati di Masjidil Haram, Makkah. Umat Islam
yang menunaikan haji dan umroh selalu menyempatkan diri untuk berdoa dan
melaksanakan salat sunnah di sekitar Maqam Ibrahim.
Dalam
sejarahnya, posisi Maqam Ibrahim tidak selalu berada di lokasi seperti sekarang.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, Maqam Ibrahim
digeser sedikit ke arah timur untuk mengakomodasi semakin banyaknya jamaah yang
datang ke Masjidil Haram. Kebijakan tersebut diambil agar jamaah yang sedang
bertawaf tidak terganggu oleh jamaah yang melaksanakan shalat di sekitar Maqam
Ibrahim, sehingga kedua ibadah tersebut dapat berlangsung dengan lebih tertib
dan nyaman.
Awalnya,
Maqam Ibrahim dibiarkan terbuka tanpa pelindung apa pun. Seiring berjalannya
waktu, kebutuhan akan struktur yang lebih permanen dan melindunginya muncul.
Pada masa Kesultanan Utsmaniyah, dibangunlah sebuah bangunan pelindung khusus
yang dilengkapi dengan kanopi di bagian belakang yang menjorok ke arah Maqam
Ibrahim, sehingga menciptakan ruang di bawahnya bagi orang-orang untuk
melaksanakan salat. Struktur awal ini didirikan pada tahun 810 H (1408 M).
Seiring waktu, bangunan tersebut mengalami pemugaran dan renovasi yang dilakukan
oleh berbagai sultan serta dermawan lainnya.
Pada
bulan Rajab 1387 H (November 1967 M), pemerinta Kerajaan Saudi Arabia
membongkar struktur tersebut dan menggantinya dengan bangunan pelindung yang
lebih kecil—bentuk yang dapat kita lihat hingga saat ini. Batu berbentuk kotak tersebut kini dilindungi
oleh struktur bangunan kecil berlapis kaca dan logam.
Di tengah berbagai peristiwa sejarah, peperangan, dan
pergantian zaman yang telah berlangsung selama ribuan tahun, batu tersebut
tetap terlindungi dan menjadi bagian penting dari syiar Islam di Tanah Suci.
Sejumlah riwayat juga menyebutkan bahwa Maqam Ibrahim
merupakan salah satu dari tiga batu yang diturunkan Allah dari surga. Dua batu
lainnya adalah Hajar Aswad dan batu yang pernah digunakan oleh Bani Israil.
Keberadaan Maqam Ibrahim yang tetap terjaga hingga sekarang dipandang oleh
banyak ulama sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla.
Meskipun peningkatan
jumlah jemaah setiap tahunnya selalu memadati situs ini, pemerintah Arab Saudi
terus berusaha menjaga kelestarian situs ini agar tetap dapat dikunjungi oleh
umat muslim dari seluruh dunia.
Maqam Ibrahim memberikan beberapa keutamaan bagi
umat muslim, khususnya bagi yang menunaikan ibadah haji ataupunumrah, antara
lain:
1. Tempat Salat Sunnah Setelah Tawaf
Berdasarkan Surah Al-Baqarah ayat
125, umat Islam disunnahkan untuk menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat salat
dua rakaat setelah menyelesaikan tawaf.
2.
Tempat Mustajab untuk Berdoa
Makam Ibrahim juga
diyakini sebagai tempat yang mustajab untuk berdoa.
3.
Simbol Keagungan dan Kemuliaan
Allah Subhanahu wa
Ta’ala memuliakan Maqam Ibrahim, menjadikannya sebagai salah satu situs yang
penting bagi umat muslim di Makkah.
Pemerintah dan
pengurus Masjidil Haram juga diberi kemampuan merawat tempat ini dengan baik
sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah Islam. Jemaah yang berkunjung juga
merasa tertarik untuk melihat, mengunjungi, dan beribadah di depan Makam
Ibrahim sebagai wujud penghormatan mereka.
4.
Saksi Pembangunan Ka'bah
Makam Ibrahim bukan
hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol dari proses pembangunan Ka'bah.
5.
Pengingat Ketekunan dan Ketaatan
Bagi yang melihat
atau beribadah di depan Makam Ibrahim, tempat ini menjadi pengingat akan
ketekunan dan ketaatan Nabi Ibrahim dalam menjalankan amanah Allah.
Batu yang mengandung
jejak kaki Nabi Ibrahim itu mengingatkan umat Islam akan dedikasi beliau
bersama Nabi Ismail dalam menaati perintah Allah Swt, sebuah warisan yang tetap
hidup hingga kini.
Kisah
beliau menjadi teladan yang inspiratif, mendorong umat Islam untuk lebih kuat
dalam keimanan dan ketaatan kepada Allah Yang Mahasuci.
Maqam
Ibrahim memiliki tempat khusus dalam hati umat muslim di seluruh dunia. Selain
sebagai bagian dari sejarah Islam yang kaya, tempat ini juga menjadi simbol
keberanian, keteguhan, dan keimanan Nabi Ibrahim yang tidak tergoyahkan. Ibadah
di depan Maqam Ibrahim merupakan bentuk penghormatan yang mendalam,
menghubungkan para jemaah dengan salah satu nabi yang paling dicintai dalam
sejarah agama Islam.
Meski demikian, para ulama mengingatkan agar umat Islam
memahami Maqam Ibrahim secara proporsional.
Bagi
kamu yang ingin melakukan umrah mandiri atau ingin mengatur perjalanan ibadahmu
lebih privat, kamu bisa mengaturnya dengan Tim Easy Umroh di easyumroh.id dan
bicarakan rencanamu.
#Easy Umroh : Jalan Mudah Menuju Baitullah